Jumat, 29 Maret 2013
Jumat, 21 Desember 2012
PERBEDAAN MARKETING SOSIAL DAN KOMERSIAL
A. PEMASARAN SOSIAL
Pemasaran
sosial adalah suatu kompleks yang terdiri dari desain, implementasi dan
pengawasan suatu program yang ditujukan untuk meningkatkan penerimaan gagasan
(ide) soaial atau perilaku pada suatu kelompok sasaran. Pemasaran sosial
menjual produk dan perilaku yang sesuai dengan minat masyarakat. Pemasaran
Sosial berorientasi pada konsumen, bukan pada produk konsumen yang dijadikan
alat ukur keberhasilan program pemasaran sosial.
Social marketing menawarkan sebuah
solusi dengan mempengaruhi perilaku, tak hanya warga negara secara individu,
namun juga kelompok masyarakat yang berpengaruh dan pembuat kebijakan. Para
pelaku pemasaran sosial, bisa menyasar pada media, organisasiorganisasi dan
penyusun kebijakan dan peraturan.
Social marketing sebagaimana
pemasaran secara generik bukanlah teori yang berdiri sendiri. Pemasaran sosial
merupakan sebuah kerangka atau struktur kerja yang tersusun atas berbagai
pengetahuan lain seperti teori ilmu-ilmu psikologi, sosiologi, antropologi dan
komunikasi dalam rangka memahami cara mempengaruhi perilaku masyarakat.
Sebagaimana juga dasar marketing bisnis, pemasaran sosial didasarkan pada
proses perencanaan logis yang melibatkan riset yang berorientasi pada konsumen,
analisis pemasaran, segmentasi pemasaran, menentukan sasaran dan identifikasi
strategi dan taktik pemasaran.
Pemasaran sosial dipengaruhi oleh perilaku
interaktif yang terus berubah, dalam iklim ekonomi, sosial dan politik yang
kompleks. Apabila pemasaran bisnis menyasar tujuan utama untuk mempertemukan
target para pemegang saham. Maka, social marketing menargetkan keinginan
masyarakat untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas hidup mereka. Perjalanan
berkembangnya social marketing sendiri pada dasarnya terjadi paralel
dengan perkembangan bidang pemasaran komersil. Selama akhir tahun 50-an dan
awal 60-an, para ahli dan pendidik pemasaran telah membahas potensi dan keterbatasan
praktik pemasaran sosial pada bidang yang baru seperti politik dan sosial.
Sebagai contoh, Wiebe (seorang ahli pemasaran) pernah mempertanyakan, apakah
“Rasa persaudaraan dapat “dijual” seperti memasarkan sabun?”.
B. PERBEDAAN MARKETING SOSIAL DAN KOMERSIL
Pemasaran
sosial pada dasarnya tidak berbeda dengan pemasaran komersial, pemasaran sosial
menggunakan teknik analisis yang sama (riset pasar, pengembangan produk,
penentuan harga, keterjangkauan, periklanan dan promosi). Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa pemasaran sosial adalah penerapan konsep dan teknik pemasaran
untuk mendapatkan manfaat sosial. Tentu saja ada sedikit perbedaan antara
pemasaran komersial dengan pemasaran sosial.
Perbedaan
antara pemasaran komersial dan pemasaran sosial menurut Depkes (1997) antara
lain adalah: 1) penggunaan produk sosial biasanya lebih rumit dari pada produk
komersial, misal penggunaan oralit tidak semudah minum coca-cola, 2) produk
sosial sering kali kontroversial, 3) keuntungan produk sosial tidak cepat
dirasakan, 4) saluran distribusi untuk produk-produk sosial lebih sulit
dikontrol karena biasanya menyangkut banyak pihak, 5) konsumen pada umumnya
tidak mampu, rawan terhadap penyakit dan berpendidikan rendah
Pemasaran
sosial dalam program-program kesehatan internasional berperan dalam penjualan
komoditi dan gagasan atau prilaku. Pada kenyataannya pemasaran sosial hampir
selalu dimulai dengan promosi tentang sikap atau kepercayaan yang berkaitan
dengan kesehatan. Berdasarkan itu disampaikan anjuran tentang produk atau
pelayanan baru, dan diberikan petunjuk tentang cara penggunaan yang efektif.
Produk-produk
yang secara sosial bermanfaat (seperti kondom, pil kontrasepsi, tablet Fe dan oralit)
dan sering disubsidi, proses penjualan ternyata sangat rumit. Karena harus
meningkatkan motivasi konsumen, merangsang kegiatan perusahaan, agen dan
pengecer, meningkatkan potensi kemandirian program dimasa yang akan datang, dan
kesemuanya merupakan ukuran keberhasilan program. Teknik- teknik pemasaran
menjadi penting untuk “menjual” perilaku baru. Para konsumen harus melakukan
pertukaran yang rumit antara perilaku baru serta memerlukan waktu dan daya
untuk mendapatkan hasil yang hanya dapat dibuktikan dalam jangka waktu yang
panjang dan mungkin membuahkan akibat yang tidak menyenangkan dalam waktu
pendek.
Pemasaran
sosial pada dasarnya berorientasi pada konsumen. Konsumen atau pengguna bukan
hanya merupakan sasaran pokok, tapi juga sebagai pengukur apakah kegiatan yang
dilaksanakan cocok, diminati, dan berhasil. Konsumen secara sistematis dimintai
saran sepanjang proses pemasaran sosial, memberikan data untuk berbagai
keputusan pemasaran yang menentukan ( Depkes, 1997).
Kotler
(2005) mengemukakan bauran pemasaran adalah serangkaian variabel pemasaran
terkendali yang dipakai oleh perusahaan untuk menghasilkan tanggapan yang
dikehendaki perusahaan dari pasar sasarannya, bauran pemasaran terdiri dari
segala hal yang bisa dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi permintaan atas
produknya dikenal sebagai “Empat P” product, price, place dan promotion.
Variabel
yang tercakup dalam product adalah mutu produk, rancangan, penyajian,
ukuran, pelayanan, garansi, pengembalian. Variabel yang tercakup kedalam harga
adalah harga dasar, potongan harga, jangka waktu pembayaran dan syarat
pembayaran, sedangkan dalam place atau saluran distribusi terdiri dari
cakupan, jenis, lokasi, inventaris dan transportasi. Dalam promotion dapat
di sebutkan penjualan, iklan, wiraniaga, hubungan masyarakat dan pemasaran
langsung.
DAFTAR
PUSTAKA
Jurnal dari Universitas Sumatera Utara.
BIMBINGAN DAN KONSELING
A.
PENGERTIAN BIMNINGAN MENURUT PARA AHLI
·
Rochman Natawidjaja (1981) Bimbingan adalah proses
pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan,
supaya individu tersebut dapat memahami dirinya, sehingga ia sanggup
mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar, sesuai dengan tuntutan dan keadaan
keluarga serta masyarakat. Dengan demikian dia dapat mengecap kebahagiaan
hidupnya serta dapat memberikan sumbangan yang berarti (Winkel & Sri
Hastuti 2007:29).
·
Andi Mappiare (1984) berpendapat bahwa bimbingan
merupakan serangkaian kegiatan paling pokok bimbingan dalam membantu
konseli/klien secara tatap muka, dengan tujuan agar klien dapat mengambil
taanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus (Winkel
& Sri Hastuti 2007:35).
·
Sofyan S. Willis (2009:13) Bimbingan adalah proses
bantuan terhadap individu yang membutuhkannya. Bantuan tersebut diberikan
secara bertujuan, berencana dan sistematis, tanpa paksaan melainkan atas
kesadaran individu tersebut, sehubungan dengan masalahnya.
·
Prayitno & Erman Amti (1994:99) Bimbingan adalah
proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli kepada seseorang
atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar
orang-orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan
mandiri, dengan memanfaatkan kekuatan individu dan sarana yang ada dan dapat
dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.
·
Smith dalam McDaniel (1959), bimbingan sebagai proses
layanan yang diberikan kepada individu-individu guna membantu mereka memperoleh
pengetahuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan dalam membuat
pilihan-pilihan, rencana-rencana, dan interpretasi-interpretasi yang diperlukan
untuk menyesuaikan diri yang baik (Prayitno & Erman Amti 1994:94).
·
Peters dan Shertzer (1974) mengemukakan definisi
bimbingan sebagai berikut, "Guidance, as used here and throughout this
book, is defined simply as the process of helping the individual to understand
himself and his world so that he can utilize his potentialities". Dari
definisi di atas terungkap pengertian bahwa bimbingan merupakan proses bantuan
terhadap individu agar ia memahami dirinya dan dunianya, sehingga dengan
demikian ia dapat memanfaatkan potensi-potensinya (Sofyan S. Willis 2009:14).
·
Moegiadi (1970) bimbingan berarti ....suatu proses
pemberian bantuan atau pertolongan kepada individu dalam hal: memahami diri
sendiri; menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan;
memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya sendiri
dan tuntutan dari lingkungan (Winkel & Sri Hastuti 2007:29).
B.
PENGERTIAN KONSELING MENURUT PARA AHLI
·
Menurut Cavanagh, konseling merupakan “a
relationship between a trained helper and a person seeking help in which both
the skills of the helper and the atmosphere that he or she creates help people
learn to relate with themselves and others in more growth-producing ways.” [Hubungan
antara seorang penolong yang terlatih dan seseorang yang mencari pertolongan,
di mana keterampilan si penolong dan situasi yang diciptakan olehnya menolong
orang untuk belajar
berhubungan dengan dirinya sendiri dan orang lain dengan terobosan-terobosan
yang semakin bertumbuh (growth-producing ways)]
·
Menurut Pepinsky 7 Pepinsky ,dalan Shertzer
& Stone,1974, konseling merupakan interaksi yang(a)terjadi
antara dua orang individu ,masing-masing disebut konselor dan klien ;(b)terjadi
dalam suasana yang profesional (c)dilakukan dan dijaga sebagai alat untuk
memudah kan perubahan-perubahan dalam tingkah laku klien
·
Menurut Smith,dalam Shertzer & Stone,1974 ,
konseling merupakan suatu proses dimana konselor membantu konselor membuat
interprestasi – interprestasi tetang fakta-fakta yang berhubungan dengn
pilihan,rencana,atau penyesuaian-penyesuaian yang perlu dibuat.
·
Menurut Mc. Daniel,1956 , konseling merupakan
suatu pertemuan langsung dengan individu yang ditujukan pada pemberian bantuan
kepadanya untuk dapat menyesuaikan dirinya secara lebih efektif dengan dirinya
sendiri dan lingkungan.
·
Menurut
Prayitno, dkk. (2003) mengemukakan bahwa bimbingan
dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik, baik
secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal,
dalam bimbingan pribadi, bimbingan sosial, bimbingan belajar, dan bimbingan karier, melalui berbagai
jenis layanan dan kegiatan pendukung, berdasarkan norma-norma yang berlaku.
C.
PENGERTIAN BIMBINGAN KONSELING
Pengertian bimbingan konseling adalah Pelayanan
bantuan untuk peserta didik baik individu/kelompok agar mandiri dan berkembang
secara optimal dalam hubungan pribadi, sosial, belajar, karir; melalui berbagai
jenis layanan dan kegiatan pendukung atas dasar norma-norma yang berlaku.
Dengan demikian, setiap bimbingan itu pasti konseling dan setiap konseling
belum tentu bimbingan.
Bimbingan dan konseling yang berkembang pada saat ini
adalah bimbingan dan konseling perkembangan. Visi bimbingan dan konseling
adalah edukatif, perkembangan, dan
outreach. Edukatif, karena titik
berat kepdulian bimbingan dan konseling terletak pada pencegahan dan
pengembangan, bukan pada korekif atau terapeutik , walaupun hal itu tetap ada
dalam kepedulian bimbingan dan konseling perkembangan. Pengembangan, karena
titik sentral tujuan bimbingan dan konseling terletak pada perkembangan optimal
dan strategi upaya upaya pokoknya memberikan kemudahan bagi perkembangan bagi
individu melalui perekayasaan lingkungan perkembangan. Outreach, kerena target
populasi layanan bimbingan dan konseling tidak terbatas kepada individu
bermasalah dan dilakukan secara individual tetapi meliputi ragam dimensi (masalah,
target intervensi, setting, metode, lama waktu layanan) dalam rentang yang cukup
lebar. Teknik yang digunakan dalam bimbingan dan konseling perkembangan adalah
pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling
(Muro and Kotman, 1995:5)
D.TUJUAN DAN FUNGSI BIMBINGAN KONSELING
a.Tujuan Umum
Tujuan umum
dari layanan Bimbingan dan Konseling adalah sesuai dengan tujuan pendidikan
sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN)
Tahun 1989 (UU No. 2/1989), yaitu terwujudnya manusia Indonesia seutuhnya yang
cerdas, yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi
pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan
rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan (Depdikbud, 1994 : 5).
b. Tujuan Khusus
Secara khusus
layanan Bimbingan dan Konseling bertujuan untuk membantu siswa agar dapat
mencapai tujuan-tujuan perkembangan meliputi aspek pribadi, sosial, belajar dan
karier. Bimbingan pribadi – sosial dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan tugas
perkembangan pribadi – sosial dalam mewujudkan pribadi yang taqwa, mandiri, dan
bertanggung-jawab. Bimbingan belajar dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan
tugas perkembangan pendidikan. Bimbingan karier dimaksudkan untuk mewujudkan
pribadi pekerja yang produktif.
Ditinjau dari
segi sifatnya, layanan Bimbingan dan Konseling dapat berfungsi sebagai :
a.
Fungsi Pencegahan (preventif)
Layanan Bimbingan dan Konseling
dapat berfungsi pencegahan artinya : merupakan usaha pencegahan terhadap
timbulnya masalah. Dalam fungsi pencegahan ini layanan yang diberikan berupa
bantuan bagi para siswa agar terhindar dari berbagai masalah yang dapat
menghambat perkembangannya. Kegiatan yang berfungsi pencegahan dapat berupa
program orientasi, program bimbingan karier, inventarisasi data, dan
sebagainya.
b. Fungsi pemahaman
b. Fungsi pemahaman
Fungsi pemahaman yang dimaksud yaitu
fungsi Bimbingan dan Konseling yang akan menghasilkan pemahaman tentang sesuatu
oleh pihak-pihak tertentu sesuai dengan keperluan pengembangan siswa pemahaman
ini mencakup :
1) Pemahaman tentang diri siswa, terutama oleh siswa sendiri, orangtua, guru, dan guru pembimbing.
2) Pemahaman tentang lingkungan siswa (termasuk di dalam lingkungan keluarga dan sekolah) terutama oleh siswa sendiri, orangtua, guru, dan guru pembimbing.
3) Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (terutama di dalamnya informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan dan/atau karier dan informasi budaya/nilai-nilai terutama oleh siswa.
c. Fungsi Perbaikan
1) Pemahaman tentang diri siswa, terutama oleh siswa sendiri, orangtua, guru, dan guru pembimbing.
2) Pemahaman tentang lingkungan siswa (termasuk di dalam lingkungan keluarga dan sekolah) terutama oleh siswa sendiri, orangtua, guru, dan guru pembimbing.
3) Pemahaman tentang lingkungan yang lebih luas (terutama di dalamnya informasi pendidikan, jabatan/pekerjaan dan/atau karier dan informasi budaya/nilai-nilai terutama oleh siswa.
c. Fungsi Perbaikan
Walaupun fungsi pencegahan dan pemahaman telah
dilakukan, namun mungkin saja siswa masih menghadapi masalah-masalah tertentu.
Disinilah fungsi perbaikan itu berperan, yaitu fungsi Bimbingan dan Konseling
yang akan menghasilkan terpecahnya atau teratasinya berbagai permasalahan yang
dialami siswa.
d. Fungsi
Pemeliharaan dan Pengembangan
Fungsi ini berarti bahwa layanan
Bimbingan dan Konseling yang diberikan dapat membantu para siswa dalam
memelihara dan mengembangkan keseluruhan pribadinya secara mantap, terarah, dan
berkelanjutan. Dalam fungsi ini hal-hal yang dipandang positif agar tetap baik
dan mantap. Dengan demikian, siswa dapat memelihara dan mengembangkan berbagai
potensi dan kondisi yang positif dalam rangka perkembangan dirinya secara
mantap dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Langganan:
Postingan (Atom)